Wednesday, 30 July 2014

Penyakit Gumboro

Penyakit Gumboro atau Infectious Bursal Desease (IBD) merupakan penyakit pada ayam yang disebabkan oleh virus, penyakit ini bersifat akut dan menyerang unggas muda, terutama umur 4-6 minggu.  penyakit ayam ini ditandai dengan depresi yang hebat, disamping itu bersifat imunosupresif yaitu depresi pembentukan antibodi humoral karena terjadi kerusakan sel limfoid bursa fabricius, dan lebih ringan dalam organ limfoit lain.

Penyakit gumboro pertamakali dilaporkan pertamakali oleh Cosgrove pada tahun 1962 di daerah Gumboro, Delaware, USA yang kemudian menamakanya sebagai penyakit Gumboro. Penyakit Gumboro menyerang semua jenis ayam dan jenis unggas lainya, misalnya kalkun. Agen penyebab penyakit telah berhasil diisolasi oleh Winterfield  pada tahun 1962, yang membedakan dengan penyakit yang telah dikenal sebelumnya sebagi nephroptic infectious bronchitis akibat inveksi virus pada ayam. Istilah Infectious bursal diusulkan oleh Hitchner.

Penyebab Penyakit Gumboro

Infectious Bursal Desease atau penyakit gumboro disebabkan oleh virus yang tidak beramplop dan berbentuk simetri icosahedral dengan diameter antara 55 – 60 nm (Hirai and Shimakura, 1974).  Dobos et al (1979) mengelompokan virus IBD kedalam famili Birnaviridae, genus Birnaviridae, merupakan ds RNA bersegmen dan hanya memiliki 2 segmen. Virus ini mempunyai kapsid yang mengandung empat struktural protein (Nick et al., 1976, Dobos et al., 1979), yang tersusun menjadi 32 kapsomer (Hirai et al., 1979).

Mcferran et al. (1980) melaporkan adanya 2 serotipe virus IBD, yaitu serotipe 1 dan 2. Virus IBD klasik telah dikenal sebagai serotipe 1, sedangkan serotipe 2 dapat berasal dari virus IBD yang ditemukan pada kalkun maupun ayam (Ismail et  al., 1988) Serotype 1 patogenik sedang serotype 2 tidak patogenik untuk ayam (Brown and Grieve, 1992). Menurut Tabbu (2000), tidak ada isolat virus serotipe 2 yang bersifat virulen pada ayam.  Virus IBD serotipe 2 dapat diisolasi dari ayam dan kalkun dan sejauh ini tidak menimbulkan penyakit pada kedua jenis unggas tersebut.

Dalam serotype 1 terdapat banyak subtype atau patotype yang telah ditemukan (Brown and Grieve, 1992).  Dalam IBDV serotype 1 dapat dibagi menjadi klasikal, antigenik varian dan very virulent (vv) strain (Brown et al., 1994).  Pada tahun 1984/85 varian strain IBDV mulai tampak di semenanjung Del-marava, AS dengan adanya peningkatan angka kematian bahkan pada kawanan yang telah divaksinasi.  Strain baru Amerika ini secara antigenik berbeda dari strain klasik (Snyder et al., 1988). Strain varian baru ini juga bebeda dengan strain serotype 1 klasik dimana strain baru ini menjadikan bursa mengalami atropi dengan cepat dengan peradangan yang minimal.  Vaksinasi menggunakan strain klasik tidak memberikan perlindungan penuh terhadap strain IBDV varian (Snyder, 1990).  Walaupun secara alami sangat menular namun kematian akibat infeksi strain klasik dan varian strain IBDV sangat rendah.  Kebanyakan kematian terjadi karena adanya depresi pada sistem imun dan infeksi sekunder (Cavanagh,1992).

Sifat Virus Gumboro

Lukert dan Hitchner (1984) melaporkan bahwa virus IBD merupakan virus yang sangat stabil, tahan terhadap ether 20% dan chloroform 5% untuk 18 jam pada suhu 4oC (Benton et al., 1967b), Virion relatif tahan panas, dan infektivitasnya  tahan terhadap pendedahan pada pH 3 (Fenner et al., 1987), agen virus ini relatif tahan terhadap radiasi sinar ultrra violet dan inaktivasi patodynamik (Petek et al., 1973). Menurut Cho dan Edgar (1969) Virus IBD dapat bertahan pada suhu 60oC selama 90 menit dan dapat bertahan pada suhu kamar 25oC selama 21 hari. Dalam litter kandang virus IBD dapat bertahan selama 60 hari (Vindevogel et al., 1976). Virus IBD sangat tahan terhadap agen fisik maupun kimia dan dapat bertahan pada suhu 50oC selama 5 jam (Benton et al., 1967b). Virus ini masih dapat hidup pada suhu 600 C, tetapi akan mati pada suhu 700 C dalam waktu 30 menit  (Landgraf et al. 1967). Inaktif  pada pH 12 tetapi masih stabil pada pH 2 (Gordon, 1977). Virus ini tahan terhadap disinfektan amonium kuartener dengan konsentrasi 1000 ppm,  campuran dengan kandungan phenolic 5% zat asam karbol 1% pada suhu 30oC untuk 1 jam (Benton et al., 1967a).  Chloramin merupakan Inaktivator IBDV yang efektif (Landgraf et al., 1967).  Jackwaood et al. (1996) keberhasilan inaktivasi IBDV menggunakan campuran yang terdiri Phenol: Chloroform:Isoamil alkohol dengan perbandingan 25:24:1.  Virus juga dapat diinaktivasi menggunakan hidrogen peroksida 10% (Ahad, 2002) dan dengan sodium hidroksida pada suhu 40oC (Shirai et al., 1994).

Epidemiologi

Infectious Bursal Desease (IBD) umumnya menyerang ayam pada umur 3-6 minggu (Lukert and Saif, 1997), bahkan bisa juga terjadi pada anak ayam yang baru menetas (Fadley and Nazerian, 1983).  Penyakit ini juga telah dilaporkan terjadi pada ayam yang telah berumur diatas 20 minggu (Okoye and Uzoukwu, 1981). Semua bangsa ayam dapat terinfeksi namun reaksi dengan mortalitas tertinggi terjadi pada jenis White leghorn (Lukert and Saif, 1997).  Mortalitas akibat inveksi virus IBD pada berbagai bangsa ayam beragam antara 13-85 % (Ahad, 2002).  Mortalitas akibat virus IBD pada berbagai peternakan berkisar antara 1-40 % pada ayam pada ayam broiler dan 2-40 % pada ayam layer (Kurade et al., 2000).  Akan tetapi menurut Meroz (1966), tidak ada perbedaan mortalitas yang signifikan pada berbagai bangsa ayam. Infeksi alami pada kalkun dan bebek telah dilaporkan (Mcferran et al., 1980).  Penyakit menyebar dengan cepat melalui kontak langsung karena sifat alami virus yang sangat kontagius (Benton et al., 1967a).  Penularan virus IBD melalui telur (dari induk ke anak) atau adanya ayam yang bertindak sebagai carrier belum terbukti secara jelas (Tabbu, 2000). Pakan ternak yang tercemar dengan virus IBD dapat menjadi perantara penularan penyakit(Yongshan et al.,1994). Arthropoda seperti nyamuk, Rodentia misalnya tikus mungkin mempunyai peranan dalam penularan virus IBD walaupun bukti yang jelas belum ada (Tabbu, 2000).

Transmisi Virus Gumboro

Virus IBD bersifat sangat kontagius dan persisten di dalam lingkungan kandang ayam (Tabbu, 2000). Dalam litter kandang virus IBD dapat bertahan selama 60 hari (Vin de vogel et al., 1976).  Para ahli melaporkan bahwa kandang yang pernah ditempati oleh ayam yang menderita gumboro akan tetap infeksius untuk ayam lain selama 54-122 hari setelah ayam sakit dikeluarkan dari kandang tersebut.  Sisa pakan, air minum dan kotoran yang berasal dari kandang yang ditempati oleh ayam yang terserang Gumboro masih bersifat infeksius selama 52 hari (Tabbu, 2000).

Virus IBD dapat ditemukan dalam leleran tubuh dan kotoran ayam terinfeksi (Tabbu, 2000). Ayam yang terinfeksi virus IBD akan mengeluarkan virus melalui fecesnya.  Makanan, air minum dan litter kandang menjadi tercemar. Ayam lain  terinfeksi melalui ingesti virus secara peroral (Butcher and Miles, 1995). Ayam juga dapat tertular melalui kontak lansung dengan ayam sakit karena sifat alami virus yang sangat kontagius (Benton et al., 1967a).

Sifat resisten alami dari virus IBD, membuat virus ini mudah ditularkan secara mekanik antar peternakan melalui manusia, peralatan kandang dan kendaraan (Butcher and Miles, 1995).  Penularan dapat juga terjadi melalui udara yang tercemar oleh debu atau partikel yang mengandung virus IBD di dalam kandang ayam (Tabbu, 2000). Sedikit jenis cacing dan nyamuk mungkin dapat bertindak sebagai reservoir (Snedeker et al., 1967; Howie and Thorson,1981; McAllister et al., 1995).  Beberapa ahli telah melaporkan bahwa sejenis cacing (Alphitobius diaperinus) yang diambil dari litter kandang dalam waktu 8 minggu pasca-infeksi bersifat infeksius terhadap ayam yang diberi makan gerusan cacing tersebut (Tabbu, 2000).  Virus ini diduga tidak dapat disebarkan melalui udara (Nugroho, 1989), Sedangkan penularan melalui telur dari induk ke anak atau adanya ayam yang bertindak sebagai carrier belum terbukti dengan jelas (Tabbu, 2000).

Pathogenesis

Selama masa perkembangan embryo hingga ayam berumur 10 minggu sel sistem imun (limfosid) menuju bursa fabricius untuk menjadi sel produsen antibodi.  Jika virus IBD merusak bursa fabrisius ayam muda, maka bursa fabrisius tidak akan mampu memproduksi limfosid yang cukup sehingga sistem kekebalan tubuh ayam mengalami penurunan atau imunosupresion (Butcher and Miles, 1995).

Bursa fabrisius yang mengalami kerusakan lebih awal akan menyebabkan penurunan jumlah limfosid dengan kemampuan produksi antibodi.  Oleh karena itu, apapun program kontrol virus IBD, harus diusahakan untuk melindungi bursa fabrisius selama mungkin.  Perlindungan terhadap bursa fabrisius dari penyakit selama kurang lebih 3 minggu akan membentuk jumlah limfosit yang cukup sehingga efek imunosupresif dari IBD akan minimal (Butcher and Miles, 1995). Efek imunosupresif yang diimbulkan oleh IBD dapat mengakibatkan ayam lebih peka terhadap berbagai macam penyakit  dan juga akan menyebabkan respon yang suboptimal terhadap berbagai program vaksinasi (Tabbu, 2000).

Setelah infeksi peroral, virus melakukan replikasi dalam sel limpatik dan macrophag dalam jaringan usus (Müller et al., 1979).  Selanjutnya melalui peredaran darah virus IBD menuju ke berbagai organ termasuk Bursa Fabrisius, dimana sel limfosit B muda dalam folikel Bursa Fabrisius merupakan sel target virus untuk replikasi (de Wit and Baxendale, 2004). Sel yang peka terhadap virus Gumboro pada ayam adalah sel B yang dihasilkan oleh bursa Fabrisius, karena sel B mempunyai immunoglobulin Ig-M yang merupakan sasaran speseifik untuk inveksi virus (Hirai dan Calnek, 1979; Kaufer dan Weiss, 1980).   Virus IBD mempunyai sasaran utama pada sel-sel yang aktif berprolifersi dan dilaporkan bahwa afinitas virus IBD lebih besar pada sel muda atau calon limfosit-B dibandingkan dengan limfosit-B dewasa (Tabbu, 2000). Setelah 13 jam post-inokulasi kebanyakan folikel telah positif mengandung virus dan setelah 16 jam post-inokulasi terjadi viremia yang ditandai dengan replikasi sekunder di berbagai organ lain yang akan menyebabkan sakit dan akhirnya mati dalam 64-72 jam post-inokulasi (de Wit and Baxendale, 2004).

Akibat adanya infeksi virus Gumboro maka akan terjadi hambatan diferensiasi stem cell dalam pembentukan sel B dan prekursor sel B yang drastis (Siavanandan dan Maheswaren, 1980).  Allan et al., (1972) melaporkan bahwa kerusakan sel B mengakibatkan penurunan reaksi terhadap vaksinasi.  Disamping itu ayam yang terinfeksi virus Gumboro pada umur dini akan mengalami penurunan respon antibodi yang dapat mengakibatkan ayam lebih rentan terhadap berbagai penyakit, misalnya chronic respiratory disease (CRD), kolibasilosis, koksidiosis, Newcastle disease (ND), Marek’s disease (MD), infectious bronchitis (IB), infectious laryngotracheitis (ILT), salmonelosis, infectious coryza (snot), dermatitis gangrenosa, inclusion body hepatitis (IBD) (Tabbu,2000).  Meskipun terdapat penurunan respon antibodi terhadap pelbagai antigen vaksin, respon antibodi terhadap virus IBD sendiri adalah normal.  Keadaan ini dikenal dengan nama fenomena paradoks untuk Gumboro (Lukert dan Saif, 1997).

Gejala Klinis

Virus IBD hanya menimbulkan penyakit dan lesi tertentu pada ayam.  Virus IBD asal lapangan dapat menimbulkan derajat pathogenesitas yang berbeda pada ayam dan semua bangsa ayam dapat terinfeksi oleh virus tersebut (Tabbu, 2000).  Kepekaan paling tinggi terjadi pada umur 3-6 minggu ketika Bursa Fabrisius berkembang secara maximal (Nunoya et al., 1992).

Kejadian Gumboro dapat dibagi atas dua bentuk (Tabbu, 2000).  Pembagian bentuk kejadian Gumboro berdasarkan dari umur ayam saat terinfeksi (Butcher and Miles, 1995), yaitu infeksi dini pada anak ayam umur 1-21 hari dan infeksi yang tertunda pada ayam umur 3 minggu keatas (3-10 minggu) (Tabbu, 2000).  Kasus Gumboro sering juga ditemukan pada ayam yang berumur lebih dari 10 minggu (Tabbu, 2000),  Gumboro juga telah dilaporkan terjadi pada ayam berumur lebih dari 20 minggu (Okoye and Uzoukwu, 1981), selama bursa fabrisius masih berfungsi (Tabbu, 2000).

Jika virus Gumboro menyerang ayam yang berumur 1-21 hari biasanya akan timbul Gumboro bentuk subklinis yang mempunyai efek sangat imunosupresif  dan menyebabkan kegagalan  berbagai program vaksinasi (Tabbu, 2000).  Alasan ayam muda tidak menunjukan gejala klinis belum diketahui (Butcher and Miles, 1995).

Jika virus IBD menyerang ayam umur 3 minggu keatas, biasanya akan timbul Gumboro bentuk klinis, efek imunosupresif yang bersifat sementara, infeksi kantong udara, kegagalan vaksinasi dan penurunan daya tubuh (Tabbu, 2000).  Gumboro bentuk klinis mempunyai serangan yang mendadak serta mortalitas dalam kawanan yang meningkat dengan cepat (Butcher and Miles, 1995). Morbiditas dan mortalitas dimulai 3 hari post-infeksi, mencapai puncak dan mereda pada hari ke 5-7 (de Wit and Baxendale, 2004). Sehubungan dengan lesi paling awal yang ditemukan adalah pada bursa Fabrisius, maka gejala awal yang terlihat adalah kecenderungan ayam untuk mematuk daerah kloaka dan sekitarnya. Gejala tersebut diikuti dengan depresi, bulu berdiri serta diare putih, daerah kloaka yang tercemar kotoran, anoreksia, tremor (Tabbu,2000), dehidrasi yang menyebabkan timbulnya lesi pada ginjal serta hemoragi dan erosi mungkin nampak pada proventrikulus dan gizzard (de Wit and Baxendale, 2004).  Ayam dalam flok akan nampak tidak teratur dan ayam yang terserang gumboro akan mengalami peningkatan temperatur tubuh pada stadium awal, sedang pada stadium akhir akan menjadi subnormal (Tabbu, 2000). Gejala klinis Gumboro pada ayam tidak spesifik tergantung dari strain virus Gumboro yang menyerang (Saif, 1998).

Perubahan Makroskopik

Virus IBD menyerang organ limfoid dan menyebabkan kerusakan pada sel B dalam bursa Fabrisius dan juga di dalam timus, limpa dan sekal tonsil.  Sebaliknya sel-sel T hampir tidak mengalami kerusakan (Tabbu, 2000).  Penyakit ini mempunyai masa inkubasi yang pendek, yaitu sekitar 18-36 jam (Lukert dan Saif, 1991).  Organ yang paling awal mengalami kerusakan adalah bursa Fabrisius.  Organ tersebut akan mengalami edema dan kongesti sehingga ukuranya akan menjadi lebih besar dan mencapai puncaknya pada hari keempat pasca-infeksi (Tabbu, 2000). Pada kasus yang berat akan nampak peradangan pada mukosa dan serosa yang ditutupi oleh transudat berwarna kekuningan (Ahad, 2002). Garis-garis longitudinal pada permukaan bursa akan terlihat lebih jelas dan warnanya berubah menjadi kekuningan (Tabbu, 2000). Pada kasus ini Ukuran bursa Fabrisius menjadi dua kali ukuran normal karena adanya edema dan kongesti (Ahad, 2002).  Perubahan tersebut akan diikuti oleh nekrosis sel-sel limfosit yang disertai oleh infiltrasi heterofil dan pada stadium akut  akan menyebabkan nekrosis dan vakuolisasi folikel bursa (Tabbu, 2000).  Lima hari setelah infeksi, ukuran bursa Fabrisius akan kembali normal (Butcher dan Miles, 1995). Kembalinya ukuran bursa Fabrisius keukuran normal, akan diikuti dengan menghilangnya transudat dalam bursa Fabrisius dan organ tersebut akan berwarna kelabu selama dan menjelang  fase atrofi (Tabbu, 2000).  Pada hari kedelapan pasca-infeksi ukuran bursa Fabrisius akan menjadi sepertiga dari ukuran normal (Ahad, 2002).

Infeksi dengan virus IBD yang sangat virulen akan menyebabkan atrofi dari bursa Fabrisius pada hari ke-3 atau ke-4 pasca-infeksi tanpa didahului oleh stadium edematous.  Pada Gumboro yang kurang akut, kerusakan jaringan bersifat moderat dan pada Gumboro bentuk ringan dapat terjadi regenerasi limfoid (Tabbu, 2000).

Nekrosis dan penurunan limfosid juga terjadi dalam organ limfoid sekunder yaitu limpha, kelenjar harder dan sekal tonsil.  Organ ini mengalami kerusakan lebih sedikit dibanding bursa Fabrisius dan mumgkin sembuh setelah infeksi (Butcher dan Miles, 1995).  Kerusaka jaringan dapat dihubungkkan dengan kerusakan sel B, meliputi folikel germinal dan bungkus perivaskuler dari limpa.  Jika ayam dapat bertahan, maka regenerasi yang berlangsungcepat akan dijumpai pada limpa, timus dan sekal tonsil (Tabbu, 2000).  Kebengkaan dan timbulnya warna keputihan, erat hubunganya dengan dilatasi tubuli kolektivus akibat adanya timbunan asam urat dan hancuran sel (Cosgrove, 1962).  Lesi pada ginjal dapat ditemukan pada kurang dari 50 % ayam yang terserang Gumboro.  Hubungan langsung antara lesi pada ginjal dan virus IBD tidak diketahui dengan pasti (Tabbu, 2000).

Hemoragi mungkin akan nampak pada paha dan muskulus pectoralis (Butcher and Miles, 1995).  Ayam yang mati akibat Gumboro akan mengalami dehidrasi, disertai warna yang lebih gelap pada muskulus pectoralis (Tabbu,2000), dan kerap kali disertai oleh petechiae pada otot dada dan paha (Ahad, 2002).  Usus penuh berisi dengan mukus dan perubahan pada ginjal biasanya jelas pada ayam yang mati atau ayam yang telah mencapai stadium lanjut dari penyakit tersebut.  Lesi pada ginjal mungkin merupakan akibat adanya dehidrasi (Tabbu, 2000).  Dehidrasi yang terjadi pada ginjal bukan merupakan akibat langsung dari infeksi oleh virus gumboro (Butcher and Miles, 1995).

Perubahan Mikroskopik

Perubahan histologik akibat Gumboro dapat ditemukan pada organ limfoid, meliputi bursa Fabrisius, limpa, timus, kelenjar Harderian dan sekal tonsil (Tabbu, 2000), gut-associated lymphoid tissue (GALT), head associated lymphoid tissues (HALT) (Lukert and Saif, 1997).  Virus Gumboro menimbulkan lesi pada jaringan limfoit, terutama bursa Fabrisius.  Bursa Fabrisius akan memperlihatkan degenerasi dan nekrosis sel-sel limfosit di bagian medula dari folikel pada hari pertama setelah infeksi.  Sel-sel limfosit akan diganti oleh sel-sel retikuloendotelial yang mengalami hiperplasia.  Hemoragi seringkali nampak diantara folikel (Cheville, 1967). Pada hari ketiga atau keempat pasca infeksi, semua folikel bursa dapat mengalami perubahan (Tabbu, 2000).  Perbesaran pada bursa Fabrisius pada periode ini dapat dihubungkan dengan adanya edema, hiperemi dan akumulasi sel heterofil (Butcher and Miles, 1995)

Setelah reaksi keradangan menurun, maka dapat ditemukan adanya bentukan menyerupai cyst di bagian medula folikel (Tabbu, 2000).  Disamping itu, epitel bursa mengalami proliferasi sedangkan ukuran mikrovilli epitel akan mengalami penurunan.  Jaringan ikat interfolikel meningkat dan pada folikel bursa terlihat pusat-pusat nekrotik berbentuk kiste (Lukert and Hitchner, 1984).  Akan terlihat juga nekrosis, fagositosis heterofil oleh makrofag, infiltrasi sel plasma dan proliferasi fibroblas diantara jaringan ikat interfolikular.  Proliferasi dari lapisan epitel folikel dapat menghasilkan suatu bentukan menyerupai kelenjar yang dibatasi oleh epitel kolumner dan kerapkali menghasilkan globuli musin.  Epitel yang membatasi folikel kerapkali mengalami proliferasi secara ekstensif sehingga terjadi metaplasia epitel (Tabbu, 2000).

Dalam limpa diawali dengan hiperplasia perivaskuler reticuloendotelial dan nekrosis limphoid teramati di daerah pusat germinal folikel setelah tiga hari paska infeksi (Helmbodt and Garner, 1964).  Re-populasi dimulai pada hari kelima dan selesai pada hari kedelapan (Okoye and Uzoukwu, 1990).  Limpa cenderung mengalami kesembuhan dalam waktu yang singkat tanpa meninggalkan lesi yang permanen pada bagian germinal folikel (Tabbu, 2000).  Timus dan sekal tonsil menunjukan adanya nekrosis di dalam jaringan limfoid pada awal infeksi (Lukert and Hitchner, 1984).  Lesi pada kedua organ tersebut lebih ringan, demikian juga kesembuhan lesi terjadi lebih cepat dibandingkan dengan bursa Fabrisius (Tabbu, 2000).

Pada glandula Harderian akan ditemukan adanya nekrosis sel plasma yang dapat mengakibatkan penurunan populasi sel tersebut (Dohms et al., 1981).  Meskipun demikian, penurunan populasi sel plasma hanya bersifat sementara (Tabbu, 2000).

Diagnosis

Diagnosis penyakit Gumboro dapat didasarkan atas gejala klinis yang tersifat, dengan pola morbiditas yang tinggi dan angka kematian yang tinggi yang berkisar antara 20-30 %, suatu kesembuhan dari gejala klinis dengan segera (dalam waktu 5-7 hari).  Diagnosis dapat juga didasarkan atas pemeriksaan paska mati dengan melihat perubahan pada bursa Fabrisius yang karakteristik untuk penyakit Gumboro (Lukert and Saif, 1991).  Diagnosis pada ayam yang sangat muda dengan infeksi subklinis atau ayam dengan antibodi asal induk (maternal antibody) yang tinggi, dapat didasarkan atas hasil pemeriksaan secara makroskopik dan gambaran mikroskopik bursa Fabrisius yang mengalami atropi (Lukert and Hitchner, 1984).  Infeksi pada ayam dengan virus IBD galur varian hanya dapat dideteksi dengan pemeriksaan histopatologik pada bursa, isolasi dan identifikasi virus dan uji serologik (Tabbu, 2000).  IBD klasik ditandai dengan serangan yang bersifat akut dengan morbiditas tinggi, mortalitas rendah dalam kawanan broiler umur 3-6 minggu atau pada pullet.  Lesi diagnostik meliputi hemoragi otot dan pelebaran bursa Fabrisius (Hanson, 1967).

Isolasi dan identifikasi virus IBD dapat dilakukan pada telur ayam bertunas umur 9-11 hari.  Virus IBD galur varian dapat menyebabkan perubahan pada embrio, meliputi splenomegali dan nekrosis pada hati, yang disertai dengan tingkat mortalitas yang rendah.  Virus IBD dapat juga diisolasi pada kultur jaringan, yang terdiri atas limfosit B dan Chicken Embrio Fibroblast (CEF) (Tabbu, 2000).

Disamping diagnosa berdasar gejala klinis dan patologis, dapat juga dilakukan diagnosa definitif yang berdasarkan isolasi dan identifikasi virus dengan uji serologis, seperti agar gel precipitation (AGP), flourescent antibody technique (FAT), virus neutralization (VN), imunoperoxidase dan enzyme linked imunosorbent assay (ELISA) (Sumaryani, 1999).  Uji ELISA merupakan metode yang paling banyak digunakan di lapangan untuk mendeteksi antibodi terhadap virus tersebut, namun uji ELISA tidak dapat membedakan antibodi terhadap virus IBD serotipe 1 dan 2 (Tabbu, 2000).  Virus neutralization (VN) merupakan salah satu uji serologis yang digunakan untuk deteksi antibodi virus Gumboro dengan menggunakan sistem biakan sel (Sumaryani, 1999).  Uji VN merupakan suatu metode yang dapat mendeteksi perbedaan serotipe virus IBD dan sampai sekarang masih digunakan untuk mengevaluasi variasi antigenik diantara berbagai isolat virus tersebut (Tabbu, 2000).   Uji AGP sering digunakan untuk mendeteksi antibodi atau antigen virus. Untuk deteksi antigen maka diambil bursa Fabrisius secara aseptik pada kasus yang masih akut.  Cincang halus, dan masukan ke dalam lubang dari medium agar AGID untuk menantang positif serum kontrol yang tidak diketahui (Sumaryani, 1999).

Penanggulangan

Ayam yang terserang Gumboro tidak dapat diobati dengan antibiotik atau antibakteri tertentu.  Pengobatan yang dilakukan pada ayam yang terserang virus IBD hanya ditujukan untuk mengatasi infeksi sekunder oleh karena adanya efek imunosupresif dari penyakit tersebut (Tabbu, 2000).

Sehubungan dengan sifat resisten alami dari virus IBD, membuat virus ini mudah ditularkan secara mekanik antar peternakan melalui manusia, peralatan kandang dan kendaraan (Butcher and Miles, 1995), tindakan pencegahan perlu dilakukan dengan jalan sanitasi, disinfeksi kandang, perlengkapan ataupun lingkungan yang tercemar oleh virus IBD untuk mencegah penularan pada ayam yang peka (Tabbu, 2000). Chloramin merupakan Inaktivator IBDV yang efektif (Landgraf et al., 1967).  Jackwaood et al. (1996) keberhasilan inaktivasi IBDV menggunakan campuran yang terdiri Phenol: Chloroform:Isoamil alkohol dengan perbandingan 25:24:1.  Virus juga dapat diinaktivasi menggunakan hidrogen peroksida 10% (Ahad, 2002) dan dengan sodium hidroksida pada suhu 40oC (Shirai et al., 1994).  Lalu lintas pekerja, pengunjung ataupun kendaraan perlu dibatasi dari kandang atau peternakan yang tercemar oleh virus IBD ke lokasi lain yang belum tercemar virus tersebut (Tabbu, 2000).

Pencegahan Gumboro pada ayam dapat dilakukan dengan vaksinasi pada tingkat breeder maupun komersial.  Vaksinasi pada parent stock diharapkan dapat menurunkan sejumlah antibodi pada DOC yang dapat melindungi anak ayam dari infeksi awal virus IBD yang bersifat sangat imunosupresif (Tabbu, 2000).   Pemilihan vaksin dari mild, intermediate, low, ataupun hot tergantung dari  faktor menejemental, level dan keseragaman maternal antibodi serta tingkat virulensi virus lapangan (Hitchner, 1974).

Masalah utama vaksinasi pada anak ayam yang mempunyai antibodi asal induk adalah saat vaksinasi yang tepat, yang bervariasi menurut titer antibodi asal induk, rute vaksinasi dan virulensi vaksin. Dalam menyusun suatu program vaksinasi perlu dipertimbangkan juga faktor stres lingkungan dan berbagai aspek menejemen.  Evaluasi titer antibodi terhadap virus IBD pada parent stock dan DOC dapat membantu penentuan waktu vaksinasi Gumboro (Tabbu, 2000).

Related Posts to "Penyakit Gumboro"

Response on "Penyakit Gumboro"