Monday, 20 May 2013

Campylobacteriosis pada Ternak


Penyakit menular ini telah lama tersebar di seluruh dunia, namun belum ada laporan tentang adanya kasus penyakit ini di Indonesia. Sebelumnya penyakit ini dikenal dengan nama vibriosis, menyerang sapi perah dan menyebabkan adanya infertilitas disertai dengan abortus pada sapi bunting. Sapi perah dilaporkan lebih rentan terhadap penyakit ini dan lebih banyak kasus di lapangan daripada sapi potong. Sedangkan pada ternak domba kasus di lapangan lebih jarang terjadi.

Etiologi

Campylobacteriosis yang disebabkan oleh Campylobacter foetus venerialis (dahulu disebut Vibrio foetus veneralis) adalah suatu penyakit penyebab utama kegagalan reproduksi pada binatang sapi yang disebarkan melalui perkawinan dan ditandai oleh infertilitas dengan jumlah perkawinan yang makin tinggi untuk satu konsepsi.

Umumnya ditemukan kematian embrio dini dan abortus pada bulan yang keempat sampai akhir masa kebuntingan. Sesuai dengan namanya Campylobacter foetus berbentuk koma, atau S. Pada suhu 60° ia akan mati dalam waktu 5 menit, tetapi dapat hidup 10-20 hari ditanah, rumput kering dan kotoran binatang ternak tergantung pada kondisi suhu dan kelembapan.

Gejala

Pada kejadian penyakit yang meyerang sapi perah, gejala klinis tidak nampak begitu jelas sebelum terjadinya infertilitas. Gejala utama yang terlihat adalah adanya penurunan angka kebuntingan, meningkatnya jumlah perkawinan untuk tiap kebuntingandan infertilitas dapat berlangsung selama 2 – 6 bulan. Gejala klinis secara individual pada ternak adalah timbulnya endometritis yang disertai timbulnya eksudat yang bersifat mukopurulen, dapat pula disertai dengan adanya KED atau biasa disebut kematian embrio dini, dengan fetus yang diabortuskan. Kasus abortus dapat terjadi dengan tingkat kasus 4-20 %. Abortus dapat terjadi bulan 4-6 pada periode kebuntingan. Pemeriksaan pada fetus yang diabortuskan akan terlihat selaput fetus yang menjadi lebih tebal, oedematous, cairan amnion yang menjadi lebih keruh, kemudian dalam lambung fetus akan ditemukan banyak cairan yang disebabkan oleh timbunan cairankeruh yang mengandung banyak bakteri campylobacter.

Cara penularan

Penularan dapat terjadi melalui kontak pada perkawinan alami dan juga melalui inseminasi buatan. Penularan penyakit lewat inseminasi buatan dapat terjadi dikarenakan adanya kontaminasi bakteri campylobacter pada air mani yang digunakan inseminasi. Setelah bakteri masuk pada hewan target, maka bakteri akan berkembang dengan cepat dalam vagina sapi yang tertular. Selanjutnya hal ini dapat juga menjadi sarana penularan terhadap pejantan yang mengawini betina yang tertular bakteri tersebut.

Selain penularan lewat kawin alami, penularan bakteri campylobacter juga dapat terjadi melalui kotoran, rumput kering maupun melalui alat-alat bekas yang dipakai pada kandang

Diagnosa

Sejarah kelompok sapi dan catatan reproduksinya akan sangat membantu dalam penentuan diagnosa penyakit ini. Demikian pula diagnosa berdasar pada gejala klinis yang muncul yang dikuatkan dengan uji laboratorium. Pemeriksaan laboratorium terdiri dari pemeriksaan mikroskopis , uji aglutinasi dan juga uji fluorescen antibody. Material sampel yang dipakai untuk menentukan diagnose penyakit ini berasal dari vagina pada hewan betina, dapat juga dari pencucian preputium pada hewan jantan atau dapat pula dari selaput fetus dari hewan ayng diabortuskan.

Uji fluoresen antibody merupakan cara yang paling tepat dan telitiuntuk mendeteksi adanya pejantan ayng bersifat carrier atau pembawa penyakit ini.sedangkan uji yang dilakukan pada hewan betina adalah uji aglutinasi cairan vagina.

Pathogenesis

Infeksi campylobacter fetus venerealis pada sapi betina akan diikuti adanya kejadian endometritis, yang ditandai dengan adanya kerusakan pada endometrium yang mencapai puncaknya pada 8-13 minggu setelah terjadinya penularan bakteri. Pada tahap ini disertai juga adanya cairan berwarna keruh dan bersifat mukopurulen. Eksudat ditemukan dalam kelenjar uterus disertai infiltrasi limfosit dalam rongga periglandular. Dengan adanya endometritis ini maka otomatis embrio akan mendapatkan oksigen yang lebih sedikit, kemudian akan melanjut terjadinya kematian pada embrio dalam waktu singkat tanpa gejala yang jelas. Hal ini menyebabkan seolah-olah sapi mempunyai siklus birahi yang diperpanjang 24-40hari. Abortus dapat terjadi dengan disertai selaput fetus yang dikeluarkan secara utuh.

Pengendalian dan pengobatan

Setelah penularan campylobacter secara alam, sapi betina akan menghasilkanantibody local, sehingga penularan ringan dengan memberikan istirahat kelaminselama 3 bulan penyakit ini dapat hilang dengan sendirinya. Vaksinasi pada sapi dara ternyata dapat meningkatkan efisiensi perkawinan walaupun pencegahan terhadap penyakit ini tidak selalu dapat diperoleh.

Cara terbaik dan termudah dalam pengendalian infeksi Campylobacter Foetus adalah tenik inseminasi buatan dengan semen dari pejantan yang sehat.

Pengobatan terhadap individu satu betina dapat dilakukan dengan infusi antibiotik secara intra uterin seperti penstrep dalam larutan air atau minyak atau antibiotik berspektum luas.


Related Posts to "Campylobacteriosis pada Ternak"

Response on "Campylobacteriosis pada Ternak"