Canine Parvo Virus
Canine ParvoVirus (CPV) adalah virus DNA kecil tanpa amplop lipoprotein dari famili parvoviridae (Kirk & Bistner, 1985; Ettinger, 1989). Infeksi CPV pertama kali ditemukan pada tahun 1978 dimana diperkirakan merupakan mutasi dari feline parvovirus yang dikaitkan dengan Feline Pan Leukopenia. Mutasi tersebut membuat virus ini menjadi lebih spesifik menyerang anjing. Ada dua tipe parvovirus yang menginfeksi anjing. Canine parvovirus-1 (CPV-1), juga dikenal sebagai “minute virus of canine”, yang relative dikenal sebagai virus nonpatogenik yang kadang dihubungkan dengan gastroenteritis, pneumonitis, dan/atau myokarditis di anak anjing yang sangat muda. Canine parvovirus-2 (CPV-2) lebih dikenal sebagai enteritis klasik dari parvovirus (Nelson and Couto, 2003).
Anjing segala umur dapat terinfeksi jika mengalami kekurangan atau kehilangan antibodi, akibat dari kurangnya antibodi maternal atau tidak divaksin berat ringannya penyakit tergantung umur, status imun/antibodi dari hewan penderita, juga tingkat stres dan penyakit lain yang ada, termasuk infestasi parasit (Lane & Cooper, 2003).
Setelah Canine ParvoVirus masuk tubuh, replikasi virus akan dimulai di jaringan limfoid gastrointestinal, dari sini virus akan menyebar ke kripta dari usus kecil. Virus berlokasi di epithelium lidah, mulut, dan mukosa esophagus, usus kecil, dan jaringan limfoid. Karena CPV-2 menginfeksi sel germinal pada kripta intestinum, sel menjadi rusak dan filinya memendek. Aktifitas mitosis dari sel myeloid dan sel limfoid juga menjadi target, menyebabkan terjadi neutropenia dan limfopenia (Boothe, 2001).
Canine parvovirus merupakan virus yang paling resisten terhadap keadaan lingkungan. Virus ini dapat tahan selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Virus ini menyebar terutama melalui kontak langsung dengan feses hewan terinfeksi. Target virus adalah sel yang sedang berkembang dan membelah secara cepat, dan tergantung faktor ini jaringan gastrointestinal maupun jantung dapat terserang (Lane and Cooper, 2003). Virus telah bermutasi sejak virus pertama kali dikenali, dan CPV-2b biasanya lebih pathogen pada beberapa anjing. CPV-2b juga biasa menyerang kucing. Virus merusak kripta intestinal dan membuat vili runtuh, diare, muntah, perdarahan usus dan invasi bakteri berikutnya; bagaimanapun juga, beberapa hewan mempunyai gejala yang ringan atau bahkan subklinik. Beberapa anjing dapat menunjukkan depresi, anoreksia, dan/ atau muntah ( yang dapat mirip seperti menelan benda asing), dan tidak menunjukan diare. Diare lebih sering absent pada 24 – 48 jam pertama penyakit dan mungkin tidak berdarah jika hal ini terjadi. Protein dari usus akan hilang mungkin bisa menyebabkan keradangan sekunder, yang menyebabkan hypoalbuminemia. Muntah biasanya lebih dulu ditemukan dan beberapa bias menyebabkan oesofagitis. Rusaknya sumsum tulang dapat menyebabkan neutropenia sementara atau berkepanjangan, membuat hewan mudah terkena infeksi bakteri yang serius, terutama jika traktus intestinal yang rusak membolehkan bakteri masuk kedalam tubuh. Demam dan/atau septic shock biasanya umum terjadi pada anjing yang sakit tetapi jarang absen pada sedikit hewan yang terpengaruhi. Anak anjing terinfeksi sejak dalam kandungan atau sebelum berumur 8 minggu mungkin akan terjadi myokarditis (Nelson and Couto, 2003). Sedangkan menurut Lane and Cooper (2003) gejala klinis berupa kematian mendadak pada anak anjing, depresi, anoreksia, muntah terus-menerus, bisa pakan utuh sampai darah, diare cair merah-coklat dengan bau yang amis, dehidrasi, shock, hipotermia dan melanjut sampai kematian jika tidak dirawat.
Infeksi Canine Parvo Virus melalui inhalasi/ingesti, terbawa sistem limfatik, tonsil, nodus limfatik regional dan usus berkaitan dengan jaringan limfoid, tergantung rute masuknya. Di sini replikasi primer virus terjadi dan dalam 3-5 hari akan terjadi viremia. Target replikasi selanjutnya tergantung umur anjing. Jika anjing berumur 7 minggu dimana sel myokardium secara cepat berkembang, maka sel ini menjadi sasaran utama CPV, menimbulkan infeksi myokardial. Imunosupresi juga akan terjadi jika jaringan limfoid dan sel yang sedang berkembang cepat pada sumsum tulang juga terinfeksi. Pada anjing berumur lebih dari 7 minggu, dimana perkembangan myokardium selesai sempurna, maka CPV akan mengubah targetnya ke saluran gastrointestinal, sehingga akan timbul gejala klinis yang terkait dengan organ-organ pencernaan, sejalan dengan adanya imunosupresi akibat infeksi pada sistem limfoid (Lane & Cooper, 2003).
Diagnosa Canine Parvovirus dilakukan berdasarkan adanya gejala klinis, anamnesa, leukopenia berat (< 1,0 x 109 sel/l), uji CITE yang menangkap antigen CPV, ELISA, dan histopatologi jaringan (Lane & Cooper, 2003). Diferensial diagnosa infeksi CPV dengan Coronavirus, yaitu walau gejala klinis hampir sama, diare berdarah dan muntah, infeksi Coronavirus tidak diikuti dengan penurunan jumlah sel darah putih dan memiliki mortalitas yang jauh lebih rendah dibandingkan infeksi CPV (Kirk & Bistner, 1985).
Perawatan anjing yang terinfeksi CPV umumnya bersifat simptomatik dan supportif. Pada infeksi tipe myokardial jarang yang berhasil sembuh. Pada infeksi tipe gastrointestinal terapi utama adalah infus intravena secara intensif. Perlu adanya transfusi darah/plasma. Perlu diberikan anti emetika untuk mencegah kehilangan elektrolit dan cairan karena muntah. Antibiotik perlu diberikan untuk mencegah dan atau jika ada infeksi sekunder bakterial (Lane & Cooper, 2003). Anjing yang terinfeksi ringan akan sembuh dalam 1-2 hari tanpa perawatan. Pada kasus yang lebih berat akan memerlukan perawatan intensif dan umumnya sembuh setelah mampu melewati masa kritis selama 3-5 hari. Jika gejala muntah dan diare berdarah muncul terus, prognosa akan lebih meragukan, sering anjing mengalami kematian walaupun diberikan terapi intensif (Ettinger, 1989). Beberapa anjing sembuh dengan mengalami malabsorpsi pakan, karena itu perlu dihindari pakan berlemak selama masa pemulihan atau bahkan selamanya (Lane & Cooper, 2003). Anjing yang berhasil sembuh selama 3 minggu atau lebih, tidak akan menulari anjing yang lain. Anjing yang berhasil sembuh tersebut akan memiliki titer antibodi yang sangat tinggi dan akan tahan terhadap infeksi CPV sepanjang hidupnya (Kirk & Bistner, 1985).
Canine parvovirus merupakan salah satu virus yang paling tahan terhadap disinfektan biasa. Satu-satunya disinfektan yang efektif adalah sodium hipoklorit atau yang umum dikenal sebagai pemutih pakaian yang biasa digunakan sehari-hari. Virus parvo sangat peka terhadap disinfektan ini (Ettinger, 1989). Pengenceran sodium hipoklorit perlu dilakukan karena bahan ini bersifat korosif,dan akan mengiritir jaringan kulit yamg peka. Pengenceran dengan perbandingan air sebanyak 30 bagian dan sodium hipoklorit sebanyak 1 bagian. Disinfektan disiramkan atau disemprotkan ke lingkungan yang tercemar feses anjing penderita dan agar efektif perlu kontak yang cukup lama dengan disifektan ini (Lane & Cooper, 2003).



Home
